Blog

Pembuatan Kebijakan Menggunakan Informasi Berdasarkan Bukti untuk Mengurangi Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia

Kajian bersama AIPI bersama dengan the US National Academy of Sciences pada 2013 menemukan, Indonesia kekurangan data dan informasi yang valid tentang kematian ibu dan bayi baru lahir selama beberapa dekade.1 Untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam mengatasi persoalan kematian ibu dan bayi baru lahir, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dengan dukungan United States Agency for International Development (USAID) mengimplementasikan Evidence Summit on Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia pada Juli 2016 – Desember 2017.

Bercermin pada tingginya angka kematian ibu dan bayi baru lahir di negara-negara berpendapatan rendah-menengah, kebutuhan akan Pembuatan Kebijakan Berdasarkan Informasi-Bukti (Evidence-Informed Policy Making/EIPM) menjadi semakin jelas di seluruh dunia.2 EIPM didefinisikan sebagai strategi mendasar untuk memanfaatkan pencapaian Millenium Development Goals (MDG), termasuk dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi baru lahir dengan memastikan efektivitas kebijakan dan meningkatkan akuntabilitas pemerintah.3-5 Hasil Evidence Summit yang diimplementasikan oleh AIPI diharapkan dapat mendukung perumusan pembaharuan kebijakan kesehatan untuk mengatasi masalah kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia dengan pendekatan pembuatan kebijakan berdasarkan informasi-bukti (evidence-informed policy making).

Dalam pelaksanaannya, Evidence Summit turut melibatkan para pemangku kepentingan mulai dari pengumpulan bukti, turut menetapkan bukti yang valid, menginterpretasikannya, menentukan prioritas rencana aksi, hingga mengawal keberlanjutan luaran yang dihasilkan. Sebagai bentuk tindak lanjut dari kegiatan forum pemangku kepentingan sebelumnya, Evidence Summit menyelenggarakan lokakarya dan diskusi kelompok bertajuk “Dialog Pengembangan Kebijakan Penurunan Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia: Penggunaan Bukti dan Informasi, serta Pelibatan Pemangku Kepentingan” pada 4-5 Oktober 2017 di Kantor AIPI di Jakarta.

Tujuan6 Dialog tersebut adalah:

  1. Mengonfirmasikan kembali hasil atau temuan telaah bukti mengenai kesehatan ibu dan bayi baru lahir, untuk mengidentifikasi bukti-bukti yang memadai maupun yang tidak memadai, serta kesenjangan bukti yang ada;
  2. Memperkaya hasil telaah bukti dengan mendapatkan masukan dari pemangku kepentingan;
  3. Merumuskan wilayah yang diprioritaskan untuk pilihan kebijakan;
  4. Merumuskan draf rekomendasi dan tindakan nyata untuk menjaga keberlangsungan Evidence Summit (termasuk prioritas penelitian lebih lanjut);
  5. Membangun konsensus di antara para pemangku kepentingan dalam menentukan prioritas rencana aksi untuk melaksanakan program kolaboratif.

Dialog yang turut dihadiri oleh Menteri Kesehatan RI, Nila F. Moeloek, itu melibatkan lebih dari 70 pemangku kepentingan dari puluhan institusi guna menjaring masukan untuk mendapatkan rekomendasi kebijakan sebagai solusi dari para pemangku kepentingan. Menteri Kesehatan mengatakan bahwa Indonesia masih mempunyai tantangan besar dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Beliau mendorong AIPI untuk meneruskan penelitian-penelitian berdasarkan rekomendasi yang dihasilkan oleh Evidence Summit.

“Melalui forum-forum semacam ini kita berharap untuk mendapatkan penyelesaian yang sangat fundamental. Barangkali memang betul, kita harus lebih radikal dalam melakukan intervensi guna mengatasi persoalan kematian ibu di Indonesia,” ujar Anung Sugihantono, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, salah satu pemangku kepentingan yang ikut berpartisipasi dalam Dialog.

Hasil pemetaan masalah beserta rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari Dialog tersebut dapat dilihat di sini.

Referensi:

  1. Joint Committee on Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia. Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia [Internet]. The National Academies Press. Washington, D.C.: National Academies Press; 2013. 1-131 p. Available from: http://www.nap.edu/catalog/18437
  2. Hirose A, Hall S, Memon Z, Hussein J. Bridging evidence, policy, and practice to strengthen health systems for improved maternal and newborn health in Pakistan. Heal Res Policy Syst [Internet]. 2015 Nov;13(1):S47. Available from: https://doi.org/10.1186/s12961-015-0034-7
  3. Kendall T, Langer A. Critical maternal health knowledge gaps in low- and middle-income countries for the post-2015 era. Reprod Health [Internet]. Reproductive Health; 2015;12(1):55. Available from: http://reproductive-health-journal.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12978-015-0044-5
  4. Uneke CJ, Sombie I, Keita N, Lokossou V, Johnson E, Ongolo- Zogo P. An assessment of maternal, newborn and child health implementation studies in Nigeria: implications for evidence informed policymaking and practice. Heal Promot Perspect [Internet]. 2016;6(3):119–27. Available from: http://journals.tbzmed.ac.ir/HPP/Abstract/HPP_5278_20160513001445
  5. Shiftman J. Generating political priority for maternal mortality reduction in 5 developing countries. Am J Public Health. 2007;97(5):796–803
  6. Taher A, Yusuf I, Evidence-Informed Policy Making on Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia (2016 – 2017). Presentation presented at Policy Development Dialogue on Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia: The Use of Evidence and Information with Stakeholder Engagement Evidence Summit; 2017; Jakarta.

 

This article is currently available in Indonesian.