Blog

Mengidentifikasi Masalah, Menelaah Bukti dan Informasi, Serta Mengeksplorasi Solusi

Pada 4-5 Oktober 2017, Evidence Summit on Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia kembali mengadakan forum komunikasi pemangku kepentingan dalam bentuk lokakarya dan diskusi kelompok bertajuk “Dialog Pengembangan Kebijakan Penurunan Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia: Penggunaan Bukti dan Informasi, serta Pelibatan Pemangku Kepentingan”.

Dialog yang turut dihadiri oleh Menteri Kesehatan RI, Nila F. Moeloek, itu melibatkan lebih dari 70 pemangku kepentingan dari puluhan institusi. “Melalui forum-forum semacam ini kita berharap untuk mendapatkan penyelesaian yang sangat fundamental. Barangkali memang betul, kita harus lebih radikal dalam melakukan intervensi guna mengatasi persoalan kematian ibu di Indonesia,” ujar Anung Sugihantono, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, salah satu pemangku kepentingan yang ikut berpartisipasi dalam Dialog.

Sementara, Fransiska Hadi dari PEER Health mengatakan, selama ini upaya-upaya promotif dan preventif dalam mengatasi persoalan kematian ibu dan bayi masih kurang tergali. “Pembicaraan tentang masalah tersebut lebih banyak di tatanan fasilitas dan layanan kesehatan. Kita perlu menggali lebih dalam inti masalah di area tersebut, menyelenggarakan lebih banyak penelitian, sehingga harapannya bisa menciptakan intervensi yang lebih bersifat promotif dan preventif,” tuturnya.

Kegiatan diskusi dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil yang dibagi berdasarkan 6 area kajian atau topic area (TA) menggunakan metode nominal group technique (NGT). Khusus untuk TA 1 dibagi lagi menjadi 2 kelompok terpisah; kualitas pelayanan kesehatan dan neonatus. Metode NGT digunakan untuk menghimpun sebanyak-banyaknya masukan dari para pemangku kepentingan untuk kemudian menghasilkan sebuah konsensus.

Hari Pertama

Diskusi kelompok pada hari pertama diawali dengan paparan masalah serta sintesis bukti-bukti oleh Core Technical Group (CTG) terkait pertanyaan-pertanyaan kunci dalam TA kajiannya. Seorang fasilitator kemudian menuliskan permasalahan utama dari paparan tersebut di sebuah kertas dan membacakannya di hadapan seluruh peserta diskusi.

Setiap peserta kemudian diminta untuk menuliskan masukan atau identifikasi masalahnya terhadap pertanyaan atau masalah tersebut pada sebuah kertas kecil secara independen. Setelah semua masukan terkumpul, fasilitator akan menuliskannya di flipchart dan memberikan kesempatan kepada setiap peserta untuk membaca seluruh masukan tersebut. Pada sesi ini berlangsung diskusi yang aktif di antara peserta, antara lain dalam memilah masukan yang serupa, menyampaikan bukti-bukti tambahan, menyampaikan pendapat, serta ketika menyamakan persepsi mengenai masukan-masukan yang terpampang di flipchart.

Usai makan siang, para peserta kembali berkumpul dalam kelompoknya masing-masing untuk bersama-sama memprioritaskan masalah utama (problem framing) dari area kajian yang telah dibahas sebelumnya. Pembuatan prioritas dilakukan dengan cara meminta setiap peserta memberikan peringkat dari masukan-masukan yang tercantum di flipchart – secara independen, tanpa diskusi. Fasilitator turut mengingatkan agar pemeringkatan dilakukan dengan mempertimbangkan besarnya masalah, keseriusan masalah (bagaimana masalah tersebut mempengaruhi morbiditas/mortalitas), serta kemauan politik (adakah kekuatan atau momentum untuk mengatasi masalah ini).

Pemeringkatan dari peserta diskusi kemudian dikumpulkan dan dihitung bersama-sama, termasuk dalam menentukan tingkat kualitas bukti dari setiap masalah (low, moderate, atau high). Masukan-masukan yang mendapat peringkat tertinggi terbanyak pada akhirnya dipilih sebagai masalah utama dari area kajian yang dibahas di kelompok tersebut. Hasil pemeringkatan masalah dari setiap kelompok kemudian dipaparkan dalam pertemuan pleno di hadapan convener Evidence Summit, Akmal Taher dan Irawan Yusuf.

Hari Kedua

Diskusi pada hari kedua berfokus pada pengembangan rekomendasi kebijakan dari berbagai masalah utama yang telah diprioritaskan pada hari sebelumnya. Baik problem framing maupun rekomendasi kebijakan yang dikaji turut dilengkapi dengan bukti-bukti yang terdiri dari local evidence, global evidence, dan expert opinion. Sesi diskusi di keenam kelompok tersebut menghasilkan 24 masalah utama terkait kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia dan 62 rekomendasi untuk mengatasi persoalan tersebut.

Usai makan siang, para peserta kembali berkumpul dalam rapat pleno yang dipimpin oleh convener Evidence Summit. Pada kesempatan ini, Akmal menyampaikan kembali bahwa proses pengumpulan dan penelaahan bukti yang diimplementasikan Evidence Summit menggunakan pendekatan pembuatan kebijakan berdasarkan informasi-bukti (evidence-informed policy making).

Selain mengeksplorasi solusi dan rekomendasi untuk kebijakan, pada sesi ini para pemangku kepentingan juga diajak terlibat dalam menetapkan prioritas rencana aksi untuk mengatasi masalah kematian ibu dan bayi. Menteri Kesehatan mengatakan bahwa Indonesia masih mempunyai tantangan besar dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Beliau mendorong AIPI untuk meneruskan penelitian-penelitian berdasarkan rekomendasi yang dihasilkan oleh Evidence Summit.

Hasil pemetaan masalah beserta rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari Dialog tersebut dapat dilihat di sini.

 

This article is currently available in Indonesian.