Peluncuran Program Evidence Summit on Reducing Maternal and Neonatal Mortality

Mencari Bukti, Menekan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir

Tingginya angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir masih menjadi beban ganda bagi Indonesia. Berdasarkan data Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2014, setiap hari ada lebih dari 40 ibu di Indonesia yang meninggal karena melahirkan, atau sekitar 305 kasus kematian dalam 100.000 kelahiran hidup. Padahal cakupan pelayanan kesehatan maternal dinyatakan membaik. Data MDGs tahun 2015 menunjukkan, sekitar 80 persen ibu menerima pemeriksaan kehamilan dan sekitar 80 persen kelahiran ditangani oleh tenaga kesehatan profesional. Di sisi lain, angka kematian bayi baru lahir mengalami stagnansi sejak tahun 2003 – 2012. Lantas, apa yang sebenarnya terjadi?

Penyebabnya masih belum diketahui dengan pasti.

Laporan bersama yang disusun AIPI dan Akademi Ilmu Pengetahuan Amerika Serikat (US NAS) pada 2013, Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia, menyebutkan bahwa Indonesia kekurangan data dan informasi yang valid untuk mengetahui penyebab tingginya angka kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia selama beberapa dekade. Oleh sebab itu AIPI dengan dukungan dari USAID kini berupaya menjaring data dan bukti seputar penyebab kematian ibu dan bayi baru lahir, serta berbagai upaya penyelesaiannya melalui program Evidence Summit on Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia yang akan berlangsung hingga September 2017. Dibandingkan dengan implementasi global evidence summit, program ini memiliki keunggulan karena merangkul lebih banyak pihak, termasuk pemerintah daerah dan dinas kesehatan di tingkat provinsi.

Peluncuran program telah dilakukan pada 18 Agustus 2016 di kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan utama. Menteri Kesehatan Nila. F. Moeloek mengakui masalah kematian ibu dan bayi amat kompleks. Ada banyak faktor yang berperan di dalamnya. “Penyebab langsung kematian ibu masih pendarahan, eklampsia, dan infeksi,” ujarnya. Di sisi lain, ada pula faktor tak langsung yang menyebabkan kematian ibu dan bayi, seperti buruknya sanitasi, akses terhadap air bersih, kondisi geografis, kurangnya pengetahuan tentang kesehatan, serta budaya masyarakat.

Sampai Februari 2017, tim Evidence Summit telah mendapatkan lebih dari 7.000 literatur yang ditelaah melalui proses telaah sistematis (systematic review) hingga terjaring sekitar 370 eligible evidence seputar kematian ibu dan bayi baru lahir. Selain itu, telah tersusun draf rekomendasi kebijakan untuk peningkatan kualitas kesehatan ibu dan bayi baru lahir.  

“Data yang dikumpulkan antara lain meliputi implementasi program, sistem rujukan, peningkatan mutu layanan kesehatan, termasuk Jaminan Kesehatan Nasional,” ujar Convener Evidence Summit, Prof. Akmal Taher, anggota Komisi Kedokteran AIPI. Bukti-bukti dari seluruh wilayah Indonesia itu akan dianalisis dan dijadikan bahan diskusi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, praktisi kesehatan, perguruan tinggi, dan lembaga-lembaga nonpemerintah.

Evidence Summit diharapkan dapat menjadi praktik baik untuk Indonesia dalam menyusun kebijakan berbasis bukti dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk menyukseskan program nasional, khususnya di bidang kesehatan.

***

Anggrita Cahyaningtyas