Blog

Perkawinan Anak dan Ketidaksetaraan Gender Memperbesar Risiko Kematian Ibu

Artikel ini pertama kali diterbitkan di The Conversation pada 23 April 2018.
Penulis, Dr. Maisuri Chalid adalah pengajar di Departemen Obstetri dan Ginekologi, Universitas Hasanuddin, dan merupakan salah satu anggota Core Technical Group pada program Evidence Summit on Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia.

Ini adalah artikel kedua dalam seri tulisan dengan tema “Kesehatan Ibu dan Anak” dalam rangka memperingati Hari Kartini yang jatuh pada 21 April.


Pekan lalu publik dikejutkan oleh rencana perkawinan siswa sekolah menengah pertama (SMP), pasangan remaja berusia 15 tahun dan 14 tahun, di Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan. Walau Undang-Undang Perkawinan membatasi usia nikah laki-laki minimal 19 tahun dan perempuan 16 tahun, pengadilan agama di sana memenuhi permintaan dispensasi usia nikah kedua remaja itu untuk kawin.

Kejadian ini hanya satu dari maraknya perkawinan usia dini di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan 1 dari 4 anak perempuan di Indonesia telah menikah pada umur kurang dari 18 tahun pada 2008 hingga 2015. Baca lebih lanjut

Kolaborasi, Kunci Mengurangi Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia

Jakarta, 28 Maret 2018– Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) merekomendasikan pembentukan Komite Nasional Percepatan Penuruan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir kepada Menteri Kesehatan RI, Nila F. Moeloek pada acara Peluncuran Hasil Evidence Summit untuk Mengurangi Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia, pada Rabu, 28 Maret 2018. Rekomendasi tersebut dihasilkan setelah menelusuri lebih dari 7.000 literatur dan hasil penelitian terkait kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia, dengan dukungan dari Pemerintah Amerika Serikat melalui Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).

Baca lebih lanjut

AIPI Memprakarsai Kolaborasi Besar Antara Peneliti dan Praktisi Indonesia, Pakar Internasional, Serta Pemangku Kepentingan

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, AKI yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDG) 2015, yaitu 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup.

Sementara, masih berdasarkan data SDKI 2012, angka kematian neonatus atau bayi baru lahir (AKN) telah menurun dari 32 (1991) menjadi 19 per 1.000 kelahiran hidup. Namun, AKN cenderung stagnan sejak 2002, sehingga memberikan peningkatan kontribusi terhadap angka kematian bayi (AKB). Baca lebih lanjut

Menjaring Masukan dari Pemangku Kepentingan untuk Menghasilkan Rekomendasi Kebijakan

Sepanjang implementasinya, Evidence Summit on Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia turut melibatkan pemangku kepentingan yang berasal dari berbagai institusi, seperti pemerintah pusat, institusi pendidikan tinggi, organisasi profesi, organisasi nirlaba, pusat penelitian, serta media massa. Pemangku kepentingan terlibat mulai dari pengumpulan bukti (dengan mengirimkan produk publikasi, akademik, laporan, dan informasi/data lain yang relevan), menjadi narasumber pada kunjungan lapangan, serta menghadiri forum komunikasi pemangku kepentingan yang diadakan oleh sekretariat Evidence Summit. Baca lebih lanjut

Mengidentifikasi Masalah, Menelaah Bukti dan Informasi, Serta Mengeksplorasi Solusi

Pada 4-5 Oktober 2017, Evidence Summit on Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia kembali mengadakan forum komunikasi pemangku kepentingan dalam bentuk lokakarya dan diskusi kelompok bertajuk “Dialog Pengembangan Kebijakan Penurunan Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia: Penggunaan Bukti dan Informasi, serta Pelibatan Pemangku Kepentingan”. Baca lebih lanjut

Pembuatan Kebijakan Menggunakan Informasi Berdasarkan Bukti untuk Mengurangi Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia

Kajian bersama AIPI bersama dengan the US National Academy of Sciences pada 2013 menemukan, Indonesia kekurangan data dan informasi yang valid tentang kematian ibu dan bayi baru lahir selama beberapa dekade.1 Untuk mendukung pemerintah Indonesia dalam mengatasi persoalan kematian ibu dan bayi baru lahir, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dengan dukungan United States Agency for International Development (USAID) mengimplementasikan Evidence Summit on Reducing Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia pada Juli 2016 – Desember 2017. Baca lebih lanjut

Memetakan Masalah dan Rekomendasi Kebijakan untuk Mengatasi Persoalaan Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia

Kegiatan “Dialog Pengembangan Kebijakan Penurunan Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia: Penggunaan Bukti dan Informasi, serta Pelibatan Pemangku Kepentingan” diselenggarakan di kantor Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Jakarta, pada 4-5 Oktober 2017. Selama dua hari, tim peneliti Evidence Summit berkolaborasi dengan para pemangku kepentingan dari berbagai institusi serta tim ahli internasional dalam memetakan masalah (problem framing) dan menyusun rekomendasi kebijakan berdasarkan informasi-bukti (evidence-informed policy making), untuk mengatasi persoalan kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia. Baca lebih lanjut

Kebijakan Harus Berbasis Bukti Ilmiah

JAKARTA, KOMPAS – Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia memakai metode evidence summit untuk mencari akar masalah masih terjadinya kematian ibu dan bayi meski ekonomi dan infrastruktur Indonesia  mengalami kemajuan. Harapannya, pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan bisa merumuskan solusi berbasis bukti. Baca lebih lanjut