Apa itu "Evidence Summit on Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia" ?

Indonesia masih menghadapi tantangan besar di bidang kesehatan, termasuk dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Berdasarkan data Millenium Development Goals (MDGs) pada 2015, tercatat sedikitnya 40 ibu di Indonesia meninggal karena melahirkan, setiap hari. Catatan ini tentu tak menggembirakan, terutama bagi Indonesia yang sudah masuk dalam kelompok G20, yang beranggotakan negara-negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Terlebih usaha untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi sudah dilakukan sejak lama.

  • Pendarahan
  • Hipertensi dan Kehamilan
  • Infeksi
  • Lainnya

dalam %

Sumber: Laporan rutin Kementerian Kesehatan, 2015

Penyebab Kematian Ibu

Lebih dari 40 ibu di Indonesia meninggal setiap hari karena melahirkan, meskipun sebanyak 80% sudah memeriksakan kehamilannya dan mendapat pertolongan dari tenaga kesehatan profesional ketika melahirkan. Sementara itu, berbagai upaya dan penelitian untuk menekan angka kematian ibu dan bayi baru lahir sudah dilakukan oleh institusi-institusi di berbagai lokasi di Indonesia.

“Data yang dikumpulkan Evidence Summit meliputi implementasi program, sistem rujukan, peningkatan mutu layanan kesehatan, termasuk Jaminan Kesehatan Nasional.”

Akmal Taher, Convener Evidence Summit/Anggota Komisi Ilmu Kedokteran AIPI

“Call for Evidence merupakan proses yang berkesinambungan dan selalu membutuhkan kontribusi aktif dari pemangku kepentingan.”

Sjamsuhidajat, Steering Committee Evidence Summit/Ketua Komisi Ilmu Kedokteran AIPI

“Evidence yang didapat dihasilkan dengan metode yang valid. Namun, perlu juga mempertimbangkan relevansi dari evidence terhadap konteks lokalnya.”

Irawan Yusuf, Co-Convener Evidence Summit/Anggota Komisi Ilmu Kedokteran AIPI

“Indonesia memiliki kebijakan lengkap di level nasional, tetapi implementasi di tingkat nasional dan rumah sakit masih jauh.”

Fransisca Hadi, PEER Health

“Isu saat ini adalah keterlibatan orang tua dan keluarga di rumah. Di RS sudah diajari Kangaroo Mother Care(KMC), namun di rumah keluarga tidak setuju.”

Hadi Pratomo, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

“Untuk kesiapan pelayanan, Puskesmas lebih siap dibandingkan dengan yang lain.”

Puti Marzoeki, World Bank Indonesia

“Harapannya, semua bisa tercatat. Penyebab kematian ibu bisa teridentifikasi satu per satu.”

Mela Hidayat, Dana Penduduk Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFPA)

“Sebanyak 2069 RS Pemerintah dan swasta terjaring dengan JKN.”

Edie S. Rachmat, Health Policy Plus

“Indonesia mengupayakan untuk memiliki rumah sakit bertaraf dunia, sehingga HAPIE dibuat untuk menentukan perbedaan RS Tipe A saat sedang diakreditasi KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit) atau JCI (Joint Commission International).”

Anhari Achadi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

“Audit Maternal Perinatal (AMP) harus diimplementasikan dengan prinsip ‘no blame, no shame, no name’. “

Rustini Floranita, World Health Organization

“Terjadi peningkatan bermakna di kabupaten dengan intervensi EMAS yaitu pemberitahuan dan pemberian informasi awal dari puskesmas sebelum merujuk ke RS, transportasi rujukan dan kesiapan resusistasi bayi.”

Siti Nurul Qomariyah, Jhpiego

“Kartu Indonesia Sehat: Dengan Gotong Royong, Semua Tertolong.”

M. Iqbal Annas, BPJS Kesehatan

Berita dan Kegiatan Terbaru

Perkawinan Anak dan Ketidaksetaraan Gender Memperbesar Risiko Kematian Ibu

Artikel ini pertama kali diterbitkan di The Conversation pada 23 April 2018. Penulis, Dr. Maisuri Chalid adalah pengajar di Departemen Obstetri dan Ginekologi, Universitas Hasanuddin, dan merupakan salah satu anggota Core Technical Group pada program Evidence Summit on Maternal and Neonatal Mortality in Indonesia.

Ini adalah artikel kedua dalam seri tulisan dengan tema “Kesehatan Ibu dan Anak” dalam rangka memperingati Hari Kartini yang jatuh pada 21 April.
Pekan lalu publik dikejutkan oleh rencana perkawinan siswa sekolah menengah pertama (SMP), pasangan remaja berusia 15 tahun dan 14 tahun, di Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan. Walau Undang-Undang Perkawinan membatasi usia nikah laki-laki minimal 19 tahun dan perempuan 16 tahun, pengadilan agama di sana memenuhi permintaan dispensasi usia nikah kedua remaja itu untuk kawin. Kejadian ini hanya satu dari maraknya perkawinan usia dini di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan 1 dari 4 anak perempuan di Indonesia telah menikah pada umur kurang dari 18 tahun pada 2008 hingga 2015. (lebih…)

Kolaborasi, Kunci Mengurangi Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia

Jakarta, 28 Maret 2018- Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) merekomendasikan pembentukan Komite Nasional Percepatan Penuruan Angka Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir kepada Menteri Kesehatan RI, Nila F. Moeloek pada acara Peluncuran Hasil Evidence Summit untuk Mengurangi Kematian Ibu dan Bayi Baru Lahir di Indonesia, pada Rabu, 28 Maret 2018. Rekomendasi tersebut dihasilkan setelah menelusuri lebih dari 7.000 literatur dan hasil penelitian terkait kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia, dengan dukungan dari Pemerintah Amerika Serikat melalui Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID). (lebih…)

AIPI Memprakarsai Kolaborasi Besar Antara Peneliti dan Praktisi Indonesia, Pakar Internasional, Serta Pemangku Kepentingan

Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, AKI yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDG) 2015, yaitu 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Sementara, masih berdasarkan data SDKI 2012, angka kematian neonatus atau bayi baru lahir (AKN) telah menurun dari 32 (1991) menjadi 19 per 1.000 kelahiran hidup. Namun, AKN cenderung stagnan sejak 2002, sehingga memberikan peningkatan kontribusi terhadap angka kematian bayi (AKB). (lebih…)